Senin, 25 Maret 2013

Media Visual Vs Media Cetak





 Hai sobat – sobat semuanya… semoga kalian semua senantiasa berada di lindungan allah SWT , amin yaa robbal ‘alamin.
Jam dinding terus berputar tanpa henti, bersaing dengan dunia yang semakin sibuk dengan kecanggihannya saat ini. Tentu seperti yang telah kita ketahui, zaman sekarang kecanggihan teknologi semakin menjadi – jadi. Kemajuan teknologi yang sedang marak di zaman ini yaitu Internet. Hampir semua orang mengenal kata itu, dari anak kecil, remaja, orang dewasa bahkan orang tua sekalipun, mereka sudah tak asing lagi dengan kata itu. Bagaimana tidak? Dengan internet  kita dapat melakukan apa saja yang kita inginkan, dan dengan internet juga, kita dapat dengan cepat mengakses informasi di seluruh penjuru indonesia bahkan diseluruh penjuru dunia tanpa batas. Menyenangkan bukan ?
Semakin berkembangnya teknologi di zaman sekarang ternyata memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan di bidang penerbitan indonesia. Penerbitan adalah sebuah industri yang berkonsentrasi memproduksi dan memperbanyak sebuah literatur dan informasi – informasi . Atau  bisa diartikan sebuah aktivitas membuat informasi yang dapat dinikmati publik. Dengan jasa sebuah perusahaan penerbit, seorang penulis dapat menyalurkan karyanya, dan sebagai masyarakat kita dapat menikmati karya – karya mereka.
Semua orang pasti pernah menikmati sebuah karya yang diterbitkan oleh industri penerbit.  Seperti halnya Koran, majalah, cerpen, buku – buku pelajaran, buku pengetahuan, novel dan masih banyak lagi. Karya – karya yang dihasilkan industry penerbit dapat di nikmati oleh semua kalangan. Karenanya, zaman dahulu minat baca masyarakat indonesia cenderung tinggi. Itulah yang sangat memberikan kesan terbaik bagi sebuah industri penerbit.
Penerbit itu di bagi menjadi empat golongan, yaitu : Pertama, penerbit professional adalah penerbit dambaan setiap penulis. Berurusan dengan penerbit semacam ini pasti menyenangkan - karena semua urusan akan ditangani secara profesional. Dari urusan penerimaan naskah, pengolahan, hingga penerbitan naskah menjadi buku, bahkan sampai urusan distribusi dan pembayaran royalti—semuanya ditangani dengan profesional.
Kedua, penerbit rumahan. Penerbit jenis ini biasanya bukan penerbit berskala besar. Namanya juga penerbit rumahan, maka skala mereka juga terbatas. Tetapi jangan salah paham. Meskipun penerbit rumahan, banyak dari mereka yang tetap menjalankan organisasinya dengan profesional, dan mereka pun menjalin hubungan kerjasama dengan para penulis dengan standar profesional.
Ketiga, penerbit tidak profesional. Dari namanya saja kita tahu. Tidak profesional. Artinya, penerbit ini berlawanan sifat dengan penerbit yang profesional. Jika penerbit profesional jujur, penerbit ini tidak jujur. Jika penerbit profesional menjalin hubungan dengan penulis atas dasar saling menguntungkan, penerbit jenis ini menjalin hubungan dengan tidak adil, berat sebelah, dan cenderung merugikan penulis.
Nah, jenis penerbit keempat, adalah penerbit non-komersial. Ini adalah penerbit yang menerbitkan buku dengan tidak menjadikan bisnis atau keuntungan sebagai tujuan utama. Biasanya, penerbit jenis ini hanya menerbitkan buku untuk keperluan-keperluan khusus yang berhubungan dengan visi mereka.
Namun, Seiring dengan perkembangan sistem teknologi informasi dan lunturnya minat baca masyarakat indonesia, istilah penerbitan mengalami perluasan makna, dimana memasukkan unsur-unsur buku elektronik, seperti e-book dalam sebuah website ataupun blog. Semuanya berkolaborasi dengan internet.
Kolaborasi  antara penebitan dan internet ternyata mampu menghasilkan sesuatu yang begitu menarik. Bagaimana tidak? Dengan bantuan internet semuanya terlihat lebih elegan. dengan tampilan – tampilan yang berwarna – warni, dan permainan font yang begitu indah, ternyata mampu menarik minat masyarakat untuk beralih menikmati karya penerbit dengan media visualnya dan bukan lagi dengan media cetaknya.
Memang ini semua kemajuan yang baik bagi bangsa kita. Tetapi disisilain, kemajuan seperti ini banyak menimbulkan efek buruk bagi masyarakat di Negara kita. Jika sebagian besar masyarakat indonesia lebih suka dengan media Visual dengan alasan tampilannya lebih menarik, mengasyikkan dan tidak membosankan, lalu bagaimana dengan mereka – mereka yang bekerja sebagai penjual Koran, dan majalah ? pendapatan mereka akan semakin menurun. Dan pada kesimpulannya, masyarakat indonesia lebih menyukai media Visual dibandingkan media Cetak. Yaa itulah Indonesiaku.