Hai sobat – sobat semuanya… semoga kalian
semua senantiasa berada di lindungan allah SWT , amin yaa robbal ‘alamin.
Jam
dinding terus berputar tanpa henti, bersaing dengan dunia yang semakin sibuk
dengan kecanggihannya saat ini. Tentu seperti yang telah kita ketahui, zaman
sekarang kecanggihan teknologi semakin menjadi – jadi. Kemajuan teknologi yang
sedang marak di zaman ini yaitu Internet. Hampir semua orang mengenal kata itu,
dari anak kecil, remaja, orang dewasa bahkan orang tua sekalipun, mereka sudah tak
asing lagi dengan kata itu. Bagaimana tidak? Dengan internet kita dapat melakukan apa saja yang kita
inginkan, dan dengan internet juga, kita dapat dengan cepat mengakses informasi
di seluruh penjuru indonesia bahkan diseluruh penjuru dunia tanpa batas. Menyenangkan
bukan ?
Semakin
berkembangnya teknologi di zaman sekarang ternyata memberikan pengaruh besar terhadap
perkembangan di bidang penerbitan indonesia. Penerbitan adalah sebuah industri
yang berkonsentrasi memproduksi dan memperbanyak sebuah literatur dan informasi
– informasi . Atau bisa diartikan sebuah
aktivitas membuat informasi yang dapat dinikmati publik. Dengan jasa sebuah
perusahaan penerbit, seorang penulis dapat menyalurkan karyanya, dan sebagai
masyarakat kita dapat menikmati karya – karya mereka.
Semua
orang pasti pernah menikmati sebuah karya yang diterbitkan oleh industri
penerbit. Seperti halnya Koran, majalah,
cerpen, buku – buku pelajaran, buku pengetahuan, novel dan masih banyak lagi.
Karya – karya yang dihasilkan industry penerbit dapat di nikmati oleh semua
kalangan. Karenanya, zaman dahulu minat baca masyarakat indonesia cenderung
tinggi. Itulah yang sangat memberikan kesan terbaik bagi sebuah industri
penerbit.
Penerbit
itu di bagi menjadi empat golongan, yaitu : Pertama, penerbit professional adalah penerbit dambaan setiap
penulis. Berurusan dengan penerbit semacam ini pasti menyenangkan - karena
semua urusan akan ditangani secara profesional. Dari urusan penerimaan naskah,
pengolahan, hingga penerbitan naskah menjadi buku, bahkan sampai urusan
distribusi dan pembayaran royalti—semuanya ditangani dengan profesional.
Kedua, penerbit rumahan.
Penerbit jenis ini biasanya bukan penerbit berskala besar. Namanya juga
penerbit rumahan, maka skala mereka juga terbatas. Tetapi jangan salah paham.
Meskipun penerbit rumahan, banyak dari mereka yang tetap menjalankan
organisasinya dengan profesional, dan mereka pun menjalin hubungan kerjasama
dengan para penulis dengan standar profesional.
Ketiga, penerbit tidak profesional.
Dari namanya saja kita tahu. Tidak profesional. Artinya, penerbit ini
berlawanan sifat dengan penerbit yang profesional. Jika penerbit profesional
jujur, penerbit ini tidak jujur. Jika penerbit profesional menjalin hubungan
dengan penulis atas dasar saling menguntungkan, penerbit jenis ini menjalin
hubungan dengan tidak adil, berat sebelah, dan cenderung merugikan penulis.
Nah,
jenis penerbit keempat, adalah penerbit
non-komersial. Ini adalah penerbit yang menerbitkan buku dengan tidak
menjadikan bisnis atau keuntungan sebagai tujuan utama. Biasanya, penerbit
jenis ini hanya menerbitkan buku untuk keperluan-keperluan khusus yang
berhubungan dengan visi mereka.
Namun,
Seiring dengan perkembangan sistem teknologi informasi dan lunturnya minat baca
masyarakat indonesia, istilah penerbitan mengalami perluasan makna, dimana
memasukkan unsur-unsur buku elektronik, seperti e-book dalam sebuah website
ataupun blog. Semuanya berkolaborasi dengan internet.
Kolaborasi antara penebitan dan internet ternyata mampu
menghasilkan sesuatu yang begitu menarik. Bagaimana tidak? Dengan bantuan
internet semuanya terlihat lebih elegan. dengan tampilan – tampilan yang
berwarna – warni, dan permainan font yang begitu indah, ternyata mampu menarik
minat masyarakat untuk beralih menikmati karya penerbit dengan media visualnya
dan bukan lagi dengan media cetaknya.
Memang
ini semua kemajuan yang baik bagi bangsa kita. Tetapi disisilain, kemajuan
seperti ini banyak menimbulkan efek buruk bagi masyarakat di Negara kita. Jika
sebagian besar masyarakat indonesia lebih suka dengan media Visual dengan
alasan tampilannya lebih menarik, mengasyikkan dan tidak membosankan, lalu
bagaimana dengan mereka – mereka yang bekerja sebagai penjual Koran, dan
majalah ? pendapatan mereka akan semakin menurun. Dan pada kesimpulannya,
masyarakat indonesia lebih menyukai media Visual dibandingkan media Cetak. Yaa
itulah Indonesiaku.
