Minggu lalu, saya mendapatkan tugas dari Dosen
Pengantar Ilmu Komunikasi yaitu Ibu Siti Solihati, Dra. Hj., MA. Didalam tugas tersebut
saya diperintahkan untuk mengamati bagaimana seseorang atau kelompok berkomunikasi
dan bagaimana proses komunikasi itu berjalan, sekaligus memberikan pendapat
pada komunikasi tersebut.
Teringat kehidupan sehari-hari saya disini adalah
menjadi anak kost, maka saya pun tertarik untuk menjadikan anak – anak penghuni
kost yang saya tempati saat ini, sebagai objek penelitian saya dalam menyelesaikan
tugas ini. Disamping saya lebih mudah dalam mengamatinya, saya juga bisa dengan mudah mengetahui cara
berkomunikasi mereka secara mendetail.
Bagaimana cara mereka berkomunikasi ?
Kost saya terletak tak jauh dari kampus saya,
tepatnya berada dibelakang masjid Darrul
Syukur atau yang biasa dikenal dengan "Masjid Ngaliyan" karena
letaknya tepat diseberang Kecamatan Ngaliyan. Jumlah keseluruhan penghuni kost
saya sekitar 13 ( Tiga belas orang). Mereka masing – masing berasal dari kota
yang berbeda, latar belakang yang berbeda, dan tingkat umur yang berbeda,
sehingga terdapat warna – warni dalam komunikasi mereka sehari – hari.
Setiap
individu mempunyai karakter yang berbeda, dan mempunyai
cara berkomunikasi yang berbeda
pula. Maka semakin banyak individu yang menghuni disana, semakin banyak karakter yang
berbeda dan semakin
banyak pula cara
berkomunikasi yang mereka
ciptakan.
Dalam cara berkomunikasi, mereka mempunyai ciri
khas yang berbeda – beda. Ada yang dalam menyampaikan pesan dengan berteriak –
teriak seperti orang yang akan marah – marah, ada yang dengan menggerakkan
anggota tubuh, ada yang dengan senyum terlebih dahulu sebelum mengatakan
sesuatu, dan ada pula yang malu – malu jika ingin mengatakan sesuatu.
Keberagaman tersebut tentu memberikan kisah unik
tersendiri bagi mereka. Terkadang karakter – karakter mereka dapat menimbulkan kesalah
pahaman antara penghuni satu dengan penghuni lainnya, apalagi dengan faktor
perbedaan bahasa.
Perbedaan bahasa rupanya menjadi faktor utama
terjadinya "Miss Komunikasi", karena banyak di jumpai bahasa – bahasa
yang dalam segi penulisan maupun dalam segi membacanya "sama" antara
kota satu dengan kota yang lainnya tetapi memiliki "makna" yang berbeda. sebagai
contoh pada kota tempat tinggal X bahasa yang katakan itu berarti "baik",
tetapi bagi lawan bicara X bahasa itu memiliki artian yang buruk, Begitupun
sebaliknya. Maka, dalam berkomunikasi mereka lebih nyaman dengan menggunakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari – hari.
Sesekali juga mereka berkomunikasi menggunakan
symbol – symbol tertentu, seperti symbol – symbol ciptaan mereka sendiri. Salah
satu contohnya ketika salah satu dari mereka mengatakan "Ya" pada
teman mereka, biasanya mereka menggantinya dengan symbol "Mangangkat
Jempol".
Untuk berkomunikasi dengan penghuni kost yang
berumur lebih tua, biasanya mereka – mereka penghuni kost yang masih junior –
junior akan menyampaikan pesan dengan lebih sopan. Dengan panggilan
"Kakak" dan ada pula yang memanggilnya "Mba". Salah satu
contohnya ketika seorang penghuni kost junior ingin meminjam sesuatu kepada
penghuni kost senior, ia mengatakan
"Kak pinjem yah" seperti itu. Begitupun sebaliknya.
Bagaimana proses komunikasi itu berjalan ?
Mengingat
mereka berasal dari kota yang berdeda dan mereka juga masing – masing mempunyai
latar belakang yang berbeda, dalam proses komunikasi mereka sering sekali mengalami
"Miss Komunikasi" diantara mereka. Sehingga terkadang mengaibatkan
hubungan antara masing – masing penghuni kost kurang harmonis.
Dalam
menjalani proses komunikasi, mereka termasuk pada proses komunikasi secara
primer. Karena mereka lebih sering
menggunakan "bahasa" untuk menyampaikan pesan yang akan mereka katakan sehingga lawan biacara mereka akan
mudah mengerti.
Namun, komunikasi yang mereka jalin tak selamanya
berjalan lancar. Mereka yang berasal dari kota yang berbeda – beda tentu
membawa bahasa yang berbeda. Kebetulan dari ke tiga belas penghuni kost, 7
diantara mereka berasal dari Kota Tegal, kota yang terkenal dengan bahasa
"Ngapak-nya". 1 berasal dari Kota Pemalang yang juga terkenal dengan
bahasa ngapaknya, 2 orang berasal dari Pati, 1 orang berasal dari Kabupaten
Batang, 1 orang berasal dari Kota Tuban, dan 1 orang lagi berasal dari Rembang.
Pada kesimpulannya kost – kostan tersebut di
dominasi dengan bahasa "Ngapak". Bahasa Ngapak bila digunakan disini bisa
menjadi bahasa kasar. Sedangkan bahasa jawa yang digunakan oleh orang – orang
Pati, Rembang dan Tuban adalah bahasa yang sangat halus. Sebagai contohnya,
ketika seorang penghuni yang berasal dari komunitas Ngapak berbicara dengan
penghuni kost yang berasal dari Pati dengan menggunakan bahasa Ngapak, seketika
itu juga terjadi kesalah pahaman. Penghuni kost yang bersal dari Pati merasa
dirinya dicaci maki, padahal penghuni kost yang bersal dari Tegal tidak merasa
mencaci maki, dia hanya berbicara biasa – biasa saja.
Komunikasi selanjutnya lebih kepada proses
komunikasi sekunder. Karena mereka mulai menggunakan media lain untuk
menyampaikan pesan – pesan mereka, yaitu dengan menggunakan media "Internet".
Sebagai mahasiswa tentunya Internet sudah tidak lagi
menajdi hal yang tabu bagi mereka. Apa lagi dengan adanya Social Network
atau yang biasa dikenal dengan Jejaring sosial seperti Facebok, Twitter,
Line, WhatsApp, Wechat, dan lain sebagainya.
Secara kebetulan sebagian besar para mereka
mempunyainya. Rupanya mereka Gadget Lovers. Meskipun mereka berada di
kamar yang saling bersebelahan, namun komunikasi itu tetap berjalan. Dalam komunikasi
mereka pada account twitter, mereka biasanya menggunakan bahasa Indonesia,
tetapi yang mereka gunakan adalah bahasa Indonesia "gaul". Contohnya
seperti kata Stalking, Kongkow, Hedon – Hedon, Cukstaw, Hoax, Minyi – Minyi dan
lain sebagainya. Sapaan yang mereka gunakan saat mereka berinteraksi diaccount
twitter, mereka tak lagi menyapa dengan sapaan "mba" atau
"kakak" tetapi berubah menjadi "sista".
Tetapi terkadang, mereka yang tidak tahu arti kata
– kata gaul itu, akan mengira bahwa kata – kata itu berarti ejekan dan mereka
akan merasa kesal sehingga menimbulkan miss komunikasi diantara mereka. Dan bukan
hanya karena itu penyebab miss komunikasi diantara mereka, tepai juga ketika
penyampaian pesan dalam bentuk tertulis. Penyampaian pesan secara tertulis
dengan penyampaian secara langsung sangat berbeda. Bisa saja yang di maksud
pengirim pesan itu baik, tetapi bagi pemenerima pesan menjadi berbeda karena
penemerima pesan membacanya dengan cara yang berbeda (nada yang berbeda).
Apa pendapat anda tentang hal tersebut ?
Menurut
saya, komunikasi yang terjalin di kost – kostan tempat saya kost sudah cukup baik
dan sudah cukup efektif. Meskipun terkadang sering terjadinya Miss Komunikasi
antara penghuni kost satu dan penghuni kost yang lain, tetapi sebisa mungkin
kita untuk memakluminya.
Mengenai
bahasa yang menjadi kendala utama bagi kita, dapat kita atasi dengan
menggunakan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Penengah bagi kita. Dengan demikian
komunikasi yang kita jalani akan berjalan lancar dan sekaligus dapat mengurangi
terjadinya Miss Komunikasi dan kesalah pahaman. Mengapa hanya mengurangi?
Karena di setiap proses komunikasi pasti akan sesekali mengalami
kesalahpahaman.
Adaptasi
sangat diperlukan bagi masing – masing penghuni kost. Karena jika setiap masing
– masing dari mereka tidak ada yang mau mengalah, maka komunikasi diantara mereka tidak akan
berjalan.
Mengenai
penggunaan social network atau jejaring sosial, memang cukup menarik untuk dijadikan media komunikasi. Untuk
mengurangi kesalahpahaman di dalam menyampaikan pesan secara tertulis, kita
dapat menambahkan emoticon – emoticon lucu, seperti smile atau animasi
agar pesan tersebut lebih hidup dan penerima pesan akan dapat memahami pesan
tersebut sepenuhnya tanpa adanya kesalahpahaman.
Dalam menggukan bahasa – bahasa gaul, seharusnya
jika mereka (penerima pesan) yang tidak tahu arti dari bahasa tersebut alangkah
baiknya sebelum mereka merasa kesal karena tak tahu arti dari bahasa tersebut,
kita harus membritahu arti dari bahasa gaul tersebut. Bukan malah
menertawakannya.
