Kamis, 13 November 2014

DINGIN CUMBUI AKU, LAGI



Ketika aku sedang berbaring diranjang tempat tidurku, aku memejamkan mataku. Terbesit dalam  bisa aku lupakan.
Masih teringat aku di malam itu. Suasana ramai, tetapi bagiku itu suasana yang sangat mencekam. Mungkin tak hanya hanya bagiku, tetapi juga bagi teman – temanku.
Teringat jelas difikiranku ketika dingin mencumbuiku di malam itu. Berawal dengan sentuhan – sentuhan lembut. Aku begitu menikmatinya. Namun tak kusangka semakin malam, sentuhan – sentuhan itu semakin menjadi.

Jumat, 14 Juni 2013

18++ Katanya ?




Apakah yang ada pada pikiran kalian ketika melihat atau mendengan kata 18++ ? tentunya semua orang pasti punya tanggapan yang berbeda – beda sesuai pandangan kalian masing – masing.
Kalo menurut gue pribadi sih..umur 18 tahun itu gag ada bedanya sama umur umur yang sebelumnya. Mau tau kenapa ? #Kepo. Karena meskipun umur gue udah 18 tahun, tapi tetep ajah sifat gue masih kaya anak kecil. Lebih tepatnya anak TK yang masih ingusan n’ doyan nangis alias cengeng. Gag tau kenapa sifat itu susah banget buat dihilangin. Kadang gue pengen banget jadi orang dewasa kaya orang – orang yang layaknya punya umur 18 tahun, tapi yang ada malah gue jadi orang yang so’ dewasa.
Umur 18 tahun itu umumnya udah dibolehin buat pacaran, tapi itu gag berlaku buat gue mungkin karena nyokap gue terlalu dramatis liat – liat pergaulan remaja sekarang kali yee... N’ sampe saat ini gue belum tuh yang namanya direstuin buat pacaran, yang ada nyokap malah ngelarang gue. Kadang gue iri juga ama temen – temen, tapi yaa itulah hidup. Tinggal dinikmatin aja beres kaaan. Gag perlu ngeluh juga kan karena belum dibolehin pacaran ?
Buat umur gue yang ke-18 ini, banyak banget kenangan – kenangan yang di upload disana. Dari mulai kenangan yang bikin hati gue nyesek sampe gue pengen masuk ke dasar bumi, sampe kenangan yang indahnya melebihi kota Paris.
Di awal umur gue yang ke-18 gue udah disuguhin sesuatu yang sumpaah kaga enak bgt, yang efeknya itu bikin gue nyesek berbulan – bulan. Mau tau apah ? #Kepo. Yaitu saat gue gagal SNMPTN undangan, udah gitu gue juga gagal SNMPTN tulis, di tambah gag lolos PPSB Unsoed n’ gag lolos UM UIN Jakarta. Sumpaah nyeseknya pake banget, saat itu gue bener – bener ngerasa gue ini ibarat orang paling bodoh *amit – amit naudzubillah*. Tapi semua itu gag bikin gue nyerah buat ngejar cita – cita gue. Terus gue coba, coba n’ coba lagi dan sampe akhirnya, gue terdampar juga disalah satu Universitas Islam Negeri. Yeaaahh saat itu gue seneng banget sampe – sampe lupa makan 2 hari 2 malem *lebay*. Gimana gag seneng, yang tadinya gue udah frustasi banget, udah gag tau mau kuliah dimana eh ternyata ada juga PTN yang mau nrima gue artinya feel gue yang bilang kalo gue itu ibarat orang paling bodoh itu salah donk.
Awal kuliah itu nyebelin banget. Ngakunya 18 tahun, tapi manjanya ngelebihin anak SD. Awal kuliah gue gag niat kuliah, OSPEK aja gue gag ikut. Udah gitu gue gag ikut UKM apa – apa lagi di kampus. Yaa gimana gag? UKMnya belum ada yang cocok sma gue. Pernah ikut PH alias production House, tapi seniornya gag ngenakin banget. Seniornya Cuma bisa modus buat cari cewe, secara yang dideketin Cuma yang canti – cantik doank gimana gue gag nyesek. Yaa gue sih maklum ajah, nyadar diri sebelum disadarin •°ωkωkωkωkωkωkωk°• kalo gue itu terlahir kurang cantik.
Gue 18 tahun. Ini kata gue ! Kok masih aja kaya anak kecil ? nagkunya 18 tahun karena udah punya e-KTP. Tapi tingkahnya masih unyu – unyu banget.
Perjuangan yang gue tempuh saat gue berumur 18 tahun itu.......cukup mengesankan, udah gitu pake banget lagi нªª˘°˘нªª˘°˘нªª˘°˘. Gue selalu pengen barubah jadi seorang yang dewasa, tapi kenapa ya gue gag bisa – bisa ? *tanyakan pada rumput yang bergoyang*.
Asmara di umur 18 tahun ini.. lumayanlah diatas rata – rata  yaa meskipun punya muka pas – pasan gue masih punya banyak cem – ceman alias kecengan #eeeaaaa. Tapi semua itu gag ada yang nyantol satupun wkwkwk. Its okay laah... no problem buat gue. Judulnya yang penting happy, ikutin alur yang ada dengan benar dalam hidup insya allah semuanya akan indah .  

Sabtu, 20 April 2013

Komunikasi Antar Penghuni Kos




Minggu lalu, saya mendapatkan tugas dari Dosen Pengantar Ilmu Komunikasi yaitu Ibu Siti Solihati, Dra. Hj., MA. Didalam tugas tersebut saya diperintahkan untuk mengamati bagaimana seseorang atau kelompok berkomunikasi dan bagaimana proses komunikasi itu berjalan, sekaligus memberikan pendapat pada komunikasi tersebut.
Teringat kehidupan sehari-hari saya disini adalah menjadi anak kost, maka saya pun tertarik untuk menjadikan anak – anak penghuni kost yang saya tempati saat ini, sebagai objek penelitian saya dalam menyelesaikan tugas ini. Disamping saya lebih mudah dalam mengamatinya, saya juga  bisa dengan mudah mengetahui cara berkomunikasi mereka secara   mendetail.
Bagaimana cara mereka berkomunikasi ?
Kost saya terletak tak jauh dari kampus saya, tepatnya berada dibelakang masjid     Darrul Syukur atau yang biasa dikenal dengan "Masjid Ngaliyan" karena letaknya tepat diseberang Kecamatan Ngaliyan. Jumlah keseluruhan penghuni kost saya sekitar 13 ( Tiga belas orang). Mereka masing – masing berasal dari kota yang berbeda, latar belakang yang berbeda, dan tingkat umur yang berbeda, sehingga terdapat warna – warni dalam komunikasi mereka  sehari – hari.
Setiap  individu mempunyai karakter yang berbeda, dan  mempunyai  cara  berkomunikasi yang berbeda pula. Maka semakin banyak individu yang menghuni disana, semakin banyak  karakter yang  berbeda  dan  semakin  banyak  pula  cara  berkomunikasi  yang mereka ciptakan.
Dalam cara berkomunikasi, mereka mempunyai ciri khas yang berbeda – beda. Ada yang dalam menyampaikan pesan dengan berteriak – teriak seperti orang yang akan marah – marah, ada yang dengan menggerakkan anggota tubuh, ada yang dengan senyum terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu, dan ada pula yang malu – malu jika ingin mengatakan sesuatu.
Keberagaman tersebut tentu memberikan kisah unik tersendiri bagi mereka. Terkadang karakter – karakter mereka dapat menimbulkan kesalah pahaman antara penghuni satu dengan penghuni lainnya, apalagi dengan faktor perbedaan bahasa.
Perbedaan bahasa rupanya menjadi faktor utama terjadinya "Miss Komunikasi", karena banyak di jumpai bahasa – bahasa yang dalam segi penulisan maupun dalam segi membacanya "sama" antara kota satu dengan kota yang lainnya tetapi  memiliki "makna" yang berbeda. sebagai contoh pada kota tempat tinggal X bahasa yang katakan itu berarti "baik", tetapi bagi lawan bicara X bahasa itu memiliki artian yang buruk, Begitupun sebaliknya. Maka, dalam berkomunikasi mereka lebih nyaman dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari – hari.
Sesekali juga mereka berkomunikasi menggunakan symbol – symbol tertentu, seperti symbol – symbol ciptaan mereka sendiri. Salah satu contohnya ketika salah satu dari mereka mengatakan "Ya" pada teman mereka, biasanya mereka menggantinya dengan symbol "Mangangkat Jempol".
Untuk berkomunikasi dengan penghuni kost yang berumur lebih tua, biasanya mereka – mereka penghuni kost yang masih junior – junior akan menyampaikan pesan dengan lebih sopan. Dengan panggilan "Kakak" dan ada pula yang memanggilnya "Mba". Salah satu contohnya ketika seorang penghuni kost junior ingin meminjam sesuatu kepada penghuni kost senior, ia  mengatakan "Kak pinjem yah" seperti itu. Begitupun sebaliknya.
Bagaimana proses komunikasi itu berjalan ?
            Mengingat mereka berasal dari kota yang berdeda dan mereka juga masing – masing mempunyai latar belakang yang berbeda, dalam proses komunikasi mereka sering sekali mengalami "Miss Komunikasi" diantara mereka. Sehingga terkadang mengaibatkan hubungan antara  masing – masing  penghuni  kost  kurang  harmonis.
            Dalam menjalani proses komunikasi, mereka termasuk pada proses komunikasi secara primer. Karena  mereka lebih sering menggunakan "bahasa" untuk menyampaikan pesan yang akan mereka  katakan  sehingga  lawan  biacara  mereka  akan  mudah  mengerti.
Namun, komunikasi yang mereka jalin tak selamanya berjalan lancar. Mereka yang berasal dari kota yang berbeda – beda tentu membawa bahasa yang berbeda. Kebetulan dari ke tiga belas penghuni kost, 7 diantara mereka berasal dari Kota Tegal, kota yang terkenal dengan bahasa "Ngapak-nya". 1 berasal dari Kota Pemalang yang juga terkenal dengan bahasa ngapaknya, 2 orang berasal dari Pati, 1 orang berasal dari Kabupaten Batang, 1 orang berasal dari Kota Tuban, dan 1 orang lagi berasal dari Rembang.
Pada kesimpulannya kost – kostan tersebut di dominasi dengan bahasa "Ngapak". Bahasa Ngapak bila digunakan disini bisa menjadi bahasa kasar. Sedangkan bahasa jawa yang digunakan oleh orang – orang Pati, Rembang dan Tuban adalah bahasa yang sangat halus. Sebagai contohnya, ketika seorang penghuni yang berasal dari komunitas Ngapak berbicara dengan penghuni kost yang berasal dari Pati dengan menggunakan bahasa Ngapak, seketika itu juga terjadi kesalah pahaman. Penghuni kost yang bersal dari Pati merasa dirinya dicaci maki, padahal penghuni kost yang bersal dari Tegal tidak merasa mencaci maki, dia hanya berbicara biasa – biasa saja.
Komunikasi selanjutnya lebih kepada proses komunikasi sekunder. Karena mereka mulai menggunakan media lain untuk menyampaikan pesan – pesan mereka, yaitu dengan menggunakan media "Internet".
            Sebagai  mahasiswa tentunya Internet sudah tidak lagi menajdi hal yang tabu bagi mereka. Apa lagi dengan adanya Social Network atau yang biasa dikenal dengan Jejaring sosial seperti Facebok, Twitter, Line, WhatsApp, Wechat, dan lain sebagainya.
Secara kebetulan sebagian besar para mereka mempunyainya. Rupanya mereka Gadget Lovers. Meskipun mereka berada di kamar yang saling bersebelahan, namun komunikasi itu tetap berjalan. Dalam komunikasi mereka pada account twitter, mereka biasanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi yang mereka gunakan adalah bahasa Indonesia "gaul". Contohnya seperti kata Stalking, Kongkow, Hedon – Hedon, Cukstaw, Hoax, Minyi – Minyi dan lain sebagainya. Sapaan yang mereka gunakan saat mereka berinteraksi diaccount twitter, mereka tak lagi menyapa dengan sapaan "mba" atau "kakak" tetapi berubah menjadi "sista".
Tetapi terkadang, mereka yang tidak tahu arti kata – kata gaul itu, akan mengira bahwa kata – kata itu berarti ejekan dan mereka akan merasa kesal sehingga menimbulkan miss komunikasi diantara mereka. Dan bukan hanya karena itu penyebab miss komunikasi diantara mereka, tepai juga ketika penyampaian pesan dalam bentuk tertulis. Penyampaian pesan secara tertulis dengan penyampaian secara langsung sangat berbeda. Bisa saja yang di maksud pengirim pesan itu baik, tetapi bagi pemenerima pesan menjadi berbeda karena penemerima pesan membacanya dengan cara yang berbeda (nada yang berbeda).
Apa pendapat anda tentang hal tersebut ?
            Menurut saya, komunikasi yang terjalin di kost – kostan tempat saya kost sudah cukup baik dan sudah cukup efektif. Meskipun terkadang sering terjadinya Miss Komunikasi antara penghuni kost satu dan penghuni kost yang lain, tetapi sebisa mungkin kita untuk memakluminya.
            Mengenai bahasa yang menjadi kendala utama bagi kita, dapat kita atasi dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Penengah bagi kita. Dengan demikian komunikasi yang kita jalani akan berjalan lancar dan sekaligus dapat mengurangi terjadinya Miss Komunikasi dan kesalah pahaman. Mengapa hanya mengurangi? Karena di setiap proses komunikasi pasti akan sesekali mengalami kesalahpahaman.
            Adaptasi sangat diperlukan bagi masing – masing penghuni kost. Karena jika setiap masing – masing dari mereka tidak ada yang mau  mengalah, maka  komunikasi diantara mereka tidak akan berjalan.
            Mengenai penggunaan social network atau jejaring sosial, memang cukup  menarik  untuk dijadikan media komunikasi. Untuk mengurangi kesalahpahaman di dalam menyampaikan pesan secara tertulis, kita dapat menambahkan emoticon – emoticon lucu, seperti smile atau animasi agar pesan tersebut lebih hidup dan penerima pesan akan dapat memahami pesan tersebut sepenuhnya tanpa adanya kesalahpahaman.
Dalam menggukan bahasa – bahasa gaul, seharusnya jika mereka (penerima pesan) yang tidak tahu arti dari bahasa tersebut alangkah baiknya sebelum mereka merasa kesal karena tak tahu arti dari bahasa tersebut, kita harus membritahu arti dari bahasa gaul tersebut. Bukan malah menertawakannya.