Ketika aku sedang berbaring diranjang tempat tidurku, aku
memejamkan mataku. Terbesit dalam bisa
aku lupakan.
Masih teringat aku di malam itu. Suasana ramai, tetapi bagiku itu
suasana yang sangat mencekam. Mungkin tak hanya hanya bagiku, tetapi juga bagi
teman – temanku.
Teringat jelas difikiranku ketika dingin mencumbuiku di malam
itu. Berawal dengan sentuhan – sentuhan lembut. Aku begitu menikmatinya. Namun
tak kusangka semakin malam, sentuhan – sentuhan itu semakin menjadi.
Sentuhan itu berawal dari jari – jemariku. Tak cukup sampai
disitu. Melalui nafas yang terhirup oleh hidung, kemudian perlahan – lahan
melewati tenggorokan, menembus kedalam hati, lalu menyebar keseluruh tubuh.
Benar – benar menguasai tubuhku.
Ku coba gerakkan jari – jemariku, rasanya mati. Dingin yang
mencumbuiku membuatku tak bisa berkata apa – apa. Tubuhku hanya bisa meringkuk.
Jari – jemariku menggenggam. Mataku terpejam. Malam itu dingin mencumbuiku
dengan dahsyat. Dengan segala kekuatannya.
Tubuhku hanya mampu bergetar dan sesekali menggeliat. Seakan
ingin rasanya aku berteriak "STOP" tanda berakhir, dan menyerah. Satu
keinginanku kala itu, menyudahi cumbuannya. Tapi itu tidak mungkin karena itu
bukan kuasaku.
Aku meronta, menggeliat, membolak – balikkan sekujur tubuhku. Dan
aku mencoba menikmati cumbuan dingin di malam itu. Namun, semakin larut malam
sentuhan – sentuhan dahsyat mewarnai cumbuan itu. Tubuhku kembali bergetar.
Rasanya aku sangat merindukan mentari.
Kucoba kuatkan tubuhku. Dengan jemari menggenggam mencari posisi
nyaman. Ketika aku berusaha mencari posisi nyaman dan aku menemukannya, hari
sudah mulai pagi.
Masih dengan kenyamananku menikmati cumbuan sang dingin. Waktu
terus berjalan. Sentuhan demi sentuhan itu menghilang perlahan – lahan. Jari –
jemariku perlahan bisa ku gerakkan. Pelukan erat sang dingin pun mulai memudar.
Dan menghilang. Kini bibirku bisa tersenyum.
Aku mencoba duduk, dan melihat kea rah luar. Ternyata masih ada
bayangan – bayangan sang dingin yang melambai padaku. Member isyarat dia akan
pergi. Kala itu aku hanya bisa tersenyum. Rupanya sang dingin mengharapkanku
kembali.
Begitupun aku, tak ada rasa menyesal ataupun "Kapok".
Dingin.. cumbui aku, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar