Kamis, 13 November 2014

DINGIN CUMBUI AKU, LAGI



Ketika aku sedang berbaring diranjang tempat tidurku, aku memejamkan mataku. Terbesit dalam  bisa aku lupakan.
Masih teringat aku di malam itu. Suasana ramai, tetapi bagiku itu suasana yang sangat mencekam. Mungkin tak hanya hanya bagiku, tetapi juga bagi teman – temanku.
Teringat jelas difikiranku ketika dingin mencumbuiku di malam itu. Berawal dengan sentuhan – sentuhan lembut. Aku begitu menikmatinya. Namun tak kusangka semakin malam, sentuhan – sentuhan itu semakin menjadi.
Sentuhan itu berawal dari jari – jemariku. Tak cukup sampai disitu. Melalui nafas yang terhirup oleh hidung, kemudian perlahan – lahan melewati tenggorokan, menembus kedalam hati, lalu menyebar keseluruh tubuh. Benar – benar menguasai tubuhku.
Ku coba gerakkan jari – jemariku, rasanya mati. Dingin yang mencumbuiku membuatku tak bisa berkata apa – apa. Tubuhku hanya bisa meringkuk. Jari – jemariku menggenggam. Mataku terpejam. Malam itu dingin mencumbuiku dengan dahsyat. Dengan segala kekuatannya.
Tubuhku hanya mampu bergetar dan sesekali menggeliat. Seakan ingin rasanya aku berteriak "STOP" tanda berakhir, dan menyerah. Satu keinginanku kala itu, menyudahi cumbuannya. Tapi itu tidak mungkin karena itu bukan kuasaku.
Aku meronta, menggeliat, membolak – balikkan sekujur tubuhku. Dan aku mencoba menikmati cumbuan dingin di malam itu. Namun, semakin larut malam sentuhan – sentuhan dahsyat mewarnai cumbuan itu. Tubuhku kembali bergetar. Rasanya aku sangat merindukan mentari.
Kucoba kuatkan tubuhku. Dengan jemari menggenggam mencari posisi nyaman. Ketika aku berusaha mencari posisi nyaman dan aku menemukannya, hari sudah mulai pagi.
Masih dengan kenyamananku menikmati cumbuan sang dingin. Waktu terus berjalan. Sentuhan demi sentuhan itu menghilang perlahan – lahan. Jari – jemariku perlahan bisa ku gerakkan. Pelukan erat sang dingin pun mulai memudar. Dan menghilang. Kini bibirku bisa tersenyum.
Aku mencoba duduk, dan melihat kea rah luar. Ternyata masih ada bayangan – bayangan sang dingin yang melambai padaku. Member isyarat dia akan pergi. Kala itu aku hanya bisa tersenyum. Rupanya sang dingin mengharapkanku kembali.
Begitupun aku, tak ada rasa menyesal ataupun "Kapok". Dingin.. cumbui aku, lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar