Selasa, 04 Desember 2012

Februari Kelabu


Bismillairohmaanirrahim…
Aku ingin menceritakan sebuah ceritaku 4 tahun silam. Dimana pada saat itu kesedihan meliputi hari-hariku.
Saat itu Aku baru duduk di bangku kelas 2 SMP.  Aku  bersekolah di International Islamic Boarding School Al-Shighor Pondok Pesantren Gedongan Cirebon.
Sore itu seusai sholat ashar berjama’ah aku bersiap-siap untuk mencuci bajuku. Karena sudah berjanji untuk mencuci bersama temanku,  aku menantinya. Arofah namanya, dia adalah teman satu kelasku sekaligus  teman satu kamarku. Wajar saja kalau aku dan dia menjadi teman dekat, karena segala sesuatu pasti kita lakukan bersama.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Arofah dengan badannya yang kurus itu membawa dua buah ember  yang berisi baju kotor dan menghampiriku. Dari kejauhan aku tertawa meledeknya. Rasanya seperti biasa, yang tak akan terjadi apa-apa. Sambil bercanda dan terawa terbahak-bahak aku mencuci bajuku.  Hoby kami berdua adalah basah-basahan saat mencuci baju.
Setelah selesai mencuci bajuku yang telah menggunung itu, aku bergegas untuk segera mandi. Seusai mandi aku kedinginan dan segera menuju kamarku. Kamarku bernama ghurfatun najwa  yang berada di sebelah utara ghurfah aminah atau biasa di kenal dengan sebutan "kamar khusus santri baru". Baru beberapa menit aku duduk di kamarku, terdengar suara Ibu Nyai memanggil nama "SHOFA". Tak ada firasat apa-apa tentang itu karena pemilik nama Shofa di pesantrenku itu bukan cuma aku.
Setelah beberapa saat Ibu Nyai mencari-cari santriwati yang bernama Shofa, ternyata yang Ibu Nyai maksud adalah namaku yaitu Shofa Nurul Hidayah atau aku biasa dipanggil "Shofa Shoghir" yang artinya  "Shofa kecil". Maklum saja waktu itu aku masih SMP, sedangkan pemilik nama Shofa yang lain umurnya jauh lebih tua dariku .
Pengurus memanggilku "nok..shofa.."
Aku menjawab "iya mba.. ada apa?". Sembari aku bersalaman dengan pengurus itu dan Ibu Nyai.
"nok.. pulang yah.. sekarang ! itu sudah di jemput..". Ibu Nyai menjawab sambil menunjukkan tanteku yang menjemputku.
Bagaikan disambar petir yang begitu dahsyat aku melihat  tanteku bersama sepupuku berada di hadapanku dan ditambah lagi dengan ucapan Ibu Nyai yang memintaku  untuk segara pulang. Tubuhku terasa gemetar, fikiranku tak tenang dan hatiku bertanya-tanya. Ada apa ini ? Mengapa tiba-tiba akau di jemput dan disuruh pulang ? Kenapa bukan ibu yang menjemput aku ? Tak sepeti biasanya dadakan begini ? Kenapa ibu tak memberitahuku terlebih dahulu ? Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuatku penasaran dengan semua ini. Sebenarnya ada apa dengan semua ini??
Sambil berjalan menuju Ndalem Pak Kiyai aku masih memikirkan rasa penasaranku itu. Sesampainya dirumah Pak kiyai ternyta aku melihat sosok laki-laki yang wajahnya tak asing lagi bagiku, dia adalah pamanku. Adik terakhir dari ibuku. Rupanya pamanku sudah menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada Pak Kiyai. Pak Kiyai meminta agar aku langsung segera pulang.  Lalu  aku beserta paman dan istrinya pamit untuk pulang.
Benar-benar saat itu sama sekali biasa-biasa saja seperti tak akan terjadi sesuatu. Tante dan pamanku bercanda seperti biasa. Namun, aku tahu semua ini pasti ada kaitannya dengan ayahkku. Karena ayahku  sudah lama mengalami sakit yang cukup serius. Liver  dan kencing manis. Yaa.. dua penyakit yang saling berlawanan.
Waktu maghrib tiba, mobilku berhenti disalah satu SPBU di daerah brebes. Saat itu hujan turun sangat lebat dengan petir dan angin yang mengiringinya. Aku menunaikan sholat maghrib. Di dalam doaku, aku memohon kepada allah "yaa allah…apabila engkau ingin mengambil roh dari tubuh ayah hamba…hamba ikhlas jika engkau mengambilnya..karena hamba tak ingin lagi melihat ayah hamba bertahan dengan penyakitnya yaa allah… sudah cukup penderitaan ayah hamba karena penyakitnya yaa allah.. hamba tak tega bila harus melihat ayah hamba menahan sakitnya yaa allah.. hamba ikhlas… hamba ikhlas yaa allah jika engkau mengambil rohnya malam ini, tetapi izinkanlah hamba untuk melihat ayah hamba yang terakhir kalinya sebelum engkau mengambil rohnya yaa allah…" aku meteskan air mata dalam doaku.
Setengah jam kemudian aku sampai di rumah, dari kejauhan rumahku tampak sepi hanya ada tiga buah motor yang terparkir di depannya. Setelah turun dari mobil, aku bergegas masuk ke dalam rumah dengan mempercepat langkahku. Di ruang tamu aku menjumpai budeku dan tanteku, mereka adalah kakak dan adik ayahku. Aku menyalami mereka dan mereka tersenyum padaku. Masih diruang tamu, Nenekku datang dan memelukku.
Aku  bertanya "ibu sama ayah dimana?
Lalu nenek menjawab "itu dikamar…". Sembari aku dan nenek berjalan menuju kamar.
Aku hanya dapat diam melihat keadaan ayahku. Ayahku terbaring lemas, dan sudah tak mengenal siapa-siapa hingga saat aku mencium tangannya yang terakhir kalinya akupun sudah tak dikenali lagi oleh ayah. Dalam hati ingin sekali aku menangis, tetapi aku bertekat untuk tidak menambah kesedihan ibuku. Terlihat disekeliling tempat tidur semua keluarga membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku segera mengambil air wudhu dan ku raih buku yasin untuk ku baca. Aku bersyukur karena aku masih bisa melihat ayahku.
Aku masih mengingat dengan jelas peristiwa itu, saat itu aku duduk di samping pintu dan bersender dilemari kayu. Aku memulai membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku membacanya tiga kali, tetapi belum selesai mengkhatamkan  surat yasin itu aku mendengar suara ayahku menyebut nama allah tiga kali dan melantunkan syadat. Aku tak menghiraukan. Aku tetap melanjutkan menghatamkan surat yasinku, dan aku sadar ketika itu ayahku telah tiada.
Kututup surat yasin itu, dan aku pandang wajah ibuku yang nampak lelah mengurusi ayah selama ini tanpa memikirkan dirinya sendiri. Aku dekati Ibu dan ku peluk ibu, rasanya hati ini tak kuat untuk menghadapi ini semua. Ku coba untuk tetap menguatkan hatiku. Mencoba untuk tidak menangis melihat kepergian ayahku meskipun itu terasa amat sangat menyedihkan.
Saudara dan tetangga-tetanggaku mulai berdatangan. Sementara aku sibuk dengan handphone-ku, memberi kabar kepada saudara-saudaraku yang berada diluar kota. Rumahku menjadi ramai dalam hitungan menit. Isak tangis dari sanak family mulai terdengar.
Dalam keadaan lemas karena terlarut dalam kesedihan. Aku diam seribu bahasa. Aku hanya melihat orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Seakan hati dan fikiran ini tak percaya dengan semua yang telah terjadi. Tiba-tiba seorang wanita cantik yang sudah cukup umur menghapiriku. Sebuah tangan yang begitu lembut membelai pundakku seraya berkata "mba…ikhlasin kepergian ayah yah.." . Aku tetap diam membisu menahan tangis, karena aku tak ingin ibuku bertambah kesedihannya saat melihatku menangis.
Pada saat itu aku tak melihat adikku. Kemana dia ? rasanya ingin sekali aku memeluknya karena saat itu ia masih duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar.
Keesokan harinya, rumahku sudah penuh oleh para pentakziyah. Mereka adalah kerabat ayahku, kerabat ibu, teman-temanku, dan semua saudara-saudaraku. Mereka datang untuk menyolati jenazah ayahku dan membacakan surat yasin untuk ayahku. Rencana pemakaman akan dilakukan seusai sholat dzuhur karena menunggu kedatangan saudaraku dari Jakarta.
Waktu berlalu begitu cepat. Kelurgaku datang, isak tangis kembali mewarnai saat-saat itu, rasanya aku sudah tak kuasa menahan air mataku. Perlahan-lahan air mataku menetes. Sebeum acara pemakaman dilaksanakan aku ibu dan adikku diminta untuk melihat wajah ayah yang terakhir kalinya. Dengan kepolosannya adikku berkata "ayah meninggal mah…?laah yaa udah…". Semua orang yang mendengar ucapan adikku, mereka menangis.
Begitu banyaknya pentakziyah yang datang. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya mampu duduk terdiam merenung karena aku sadar bahwa inilah akhir dari semuanya. Esok hari nanti aku tak akan bisa lagi melihat senyum ayahku yang selalu menghiasi hari-hariku, tak akan ada lagi sosok ayah dalam hidupku. Tak ada lagi yang akan menasihatiku selain Ibuku, tak akan ada lagi pujian manja dari ayahku, tak akan ada lagi yang akan menyuruhku untuk membuatkan "es teh" kesukaanya itu.
Saat aku melihat adikku, air mataku kembali menetes. Kali ini air mataku menetes dengan begitu deras seakan tak dapat lagi aku membendung rasa sedihku. Mungkin adikku belum mengerti tentang apa yang telah terjadi, dia hanya mengerti bahwa ayah itu meninggal. Tetapi dia tidak mengerti bahwa ayah akan meninggalkan kita selamnya. Mungkin aku mampu menghadapi semuanya dan merelakan kepargian ayahku, karena selama ini aku sudah cukup puas menikamati kasih sayang ayah. Sementara adikku ????? dia masih sangat kecil.. dia belum puas menikmati kasih sayang ayah.
Waktu terus berlalu, lambat laun aku, ibu dan adikku bias menerima itu semua  dan kita mulai terbiasa dengan ketiadaan ayah di kehidupan kita. Ketika kita semua kangen sama ayah, biasa kita lihat makam ayah dari pintu belakang rumah, karena ayahku di makamkan di pemakaman belakang rumahku.
Satu hal yang aku sesali, ayah tidak bisa melihat ku yang saat ini sudah tumbuh menjadi dewasa, sudah duduk dibangku perkuliahan. Aku berjanji akan membahagiakan ibu dan adikku setelah kepergian ayah karena aku sempat bias membahagiakan ayah.
Ayah….. kita semua merindukanmu… akuuu ibuuu dan dede.. merindukanmu….

Malam Idul Fitri


Tegal,19 agustus 2012



Allahu akbar…. allahu akbar…. allahu akbar….
Terdengar  gema takbir dan tahmid telah berkumandang di seluruh penjuru nusantara… yaa bagaimana tidak? Hari inilah waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat islam, setelah mereka menempuh perjuangan melawan hawa nafsu, lapar dan haus selama tiga puluh hari. Yaa hari ini adalah  Hari Raya Idul Fitri. Semua umat islam diseluruh penjuru nusantara menyambutnya dengan penuh suka cita.
Termasuk umat muslim, aku ibu beserta adikku juga ikut merasakan betapa gembiranya menyambut hari nan fitri ini… saat itu bagaikan saat dimana semua rasa bercampur menjadi satu, antara gembira,bahagia, dan sedih.
Pada malam lebaran itu,,aku tak lupa menunaikan ibadah untuk berzakat fitrah bersama ibu dan adikku. Seusai membagikan zakat fitrah aku dan ibu kembali kerumah. Tetapi tidak bersama adikku, kerena dia malam itu tidur di rumah nenekku.
Tak terasa waktu sudah cukup malam.  Jarum jam kamarku menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku mengira ini masih sekitar pukul 19.30 karena sauna jalan depan rumahku masih sangat ramai. Dengan terburu-buru aku bergegas menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamarku.
Beberapa saat kemudian….
Seusai sholat isya seperti biasanya aku berdoa. Di dalam doaku, ku sebutkan nama ibu, adikku dan almarhum ayahku. Disaat aku menyebut nama ayahku, tiba-tiba aku teringat dengan sosok ayah yang telah sekian lama meninggalkan aku ibu dan adikku. Aku seakan-akan mengingat peristiwa 4 tahun lalu.
Begitu jelas bayangan ayah difikiranku, sosoknya yang gagah, dan berbadan besar itu membuat rasa rinduku kepada ayahku semakin menjadi-jadi. Sampai-sampai aku tak sadar…air mataku perlahan-lahan menetes.
Ku tutup doaku dengan doa surat al-fatihah. Bayangan itu semakin jelas dan amat sangat jelas difikiranku.
Aku terdiam.. merenung…sembari membayangkan sosok ayahku, aku menangis tersedu-sedu..karena inilah lebaran ke 4 ditinggal oleh seorang yang aku sayangi.
Rasanya aku ingin sekali berteriak. Tetapi untuk apah? Ayahku telah diambil oleh sang pencipta. Ayah… aku rindu,,,. Aku menyadari. Allah itu sayang kepada ayahku.
Betapa sedihnya aku, saat itu yang hanya bias aku pandang adalah foto ayahku, aku meraih foto itu, dan ku peluk erat foto itu. Aku mencoba tersenyum untuk ayah di malam idul fitri ini. Semoga ayah bahagia di surge allah.
Ayaaaah… doa anakmu selalu menyertaimu…….. J J J
Al-faatihah…

Minggu, 02 Desember 2012

makalahku



I.                   PENDAHULUAN
Al-Qur’an Al-Karim adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, mengandumg hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, filsafat, peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia, baik sebagai makhluk individu ataupun sebagai makhluk sosial, sehingga dapat bahagia hidup baik di dunia dan juga di akhirat. Untuk mengetahui kandungan Alquran itu diperlukan suatu metode keilmuan yang dikenal dengan nama Ulumul qur’an.
Dalam Al-qur’an terdapat beberapa pokok-pokok kandungan. Diantara pokok-pokok kandungan Al-qur’an adalah aqidah, syariah, akhlak, sejarah, iptek, dan filsafat. Diantaranya terdapat perintah menafsirkan al-qur’an supaya kita lebih memahami kandungan al-qur’an.
Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Ilmu tafsir telah dikenal sejak zaman Rasulullah dan berkembang hingga di zaman modern sekarang ini. Menafsirkan Al-qur’an sama halnya dengan menjelaskan maksud Allah ta’ala yang Dia kehendaki dalam firman-Nya. Sehingga tidak boleh hukumnya menafsirkan Al-qur’an tanpa ilmu, karena termasuk berkata atas nama Allah dengan tanpa ilmu.
Ilmu tafsir Al-Qur’an berkembang mengikuti irama perkembangan masa dan memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu generasi. Tiap-tiap masa dan generasi menghasilkan tafsir-tafsir al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan generasi itu dengan tidak menympang dari hukum-hukum agama.
Allah menurunkan al-Qur’an untuk dibaca dengan penuh penghayatan (Tadabbur), meyakini kebenarannya dan berusaha untuk mengamalkannya. Allah berfirman,” Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Oleh karena itu, agar kita bisa mewujudkan perintah Allah tersebut, seorang harus bisa memahami makna dan kandungannya dan disini sangat diperlukan perangkat metodologi penafsiran yang berfungsi mengarahkan penafsiran itu sendiri. Dengan demikian, maka sangat penting sekali kita mengetahui tentang tafsir.


II.                RUMUSAN MASALAH

1.      Pengertian ilmu Tafsir ?
2.      Macam-macam Tafsir berdasarkan sumbernya ?
3.      Faedah mempelajari Tafsir Al-Qur’an ?

III.             PEMBAHASAN

1.      Pengertian Tafsir

Secara etimologi tafsir berasal dari akar kata  “al fasr” kemudian diubah menjadi bentuk taf’il yaitu menjadi  “al-tafsir” yang berarti penjelasan atau keterangan.[1] Dalam kamus “lisanul Arab” ibnu Manzur menjelaskan bahwa kata “al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata “at-tafsir” berarti menyingkapkan sesuatu maksud lafad yang musykil dan pelik.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kata tafsir (fusara) adalah kata kerja yang terbalik dari kata “safara” yang juga berarti menyingkapkan. Pembentukan kata dari al-fasr menjadi bentuk taf’il yakni “al-tafsir’ adalah untuk menunjukkan arti tafsir (banyak, sering berbuat). Menurut Ar-Raghib, kata “al-fasr” dan “as-safr” adalah dua kata yang berdekatan makna dan lafadnya. Yang pertama untuk menunjukkan arti menampakkan (menzahirkan) makna yang ma’qul (abstrak) sedangkan yang kedua untuk menunjukkan arti menampakkan benda pada penglihatan mata. Dalam al-qur’an
Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya, Atau ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW., berikut penjelasan maknanya serta hikmah-hikmahnya.

2.      Macam-macam Tafsir berdasarkan sumbernya
Pembagian Tafsir secara ilmiah, tafsir terbagi menjadi empat bagian:
A.    Tafsir bil Ma’tsur
Tafsir bil Ma’tsu rsering disebut dengan Tafsir Bilriwayah atau Tafsir bil Manqul, yaitu tafsir Al-qur’an yang dalam menafsirkan ayat-ayat Al-qur’an didasarkan atas sumber penafsiran dari Al-qur’an, dari riwayatpara sahabat dan dari riwayat para tabi’in.


Kitab-kitab tafsir yang tergolong dalam kategori Tafsir bil Ma’tsur ini antara lain:
a.      Jam’ul Bayan fi Tafsiril Quran, karya Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H)
b.      Al-Kasyfu wal Bayan’an Tafsiril Quran, karya Imam Ahmad Ibnu Ibrahim As-Tsalabi (wafat 427 H)
c.       Ma’alimut Tanzil, oleh Imam Husain Ibnu Mas’ud Al-Baghawi (wafat 516 H)[2]
Pada tafsir ini, penafsiran ayat-ayat Al-qur’an diambil dari sumber-sumber yang berhubungan dengan makna ayat yang akan ditafsirkan, lalu disebutkan penafsirannya berdasarkan riwayat, nukilan, atau kutipan yang diambil tersebut, tanpa berijtihad di dalam menjelaskan maksud ayat yang di tafsirkan dan tidak mencari penafsiran dari sumber yang lain, bahkan menghindari keterangan yang tidak ada faedahnya selama tidak ada dalilnya.
Mufasir yang menempuh cara ini hendaknya menelusuri lebih dahulu atsar-atsar yang ada mengenai makna ayat kemudian atsar tersebut dikemukakan sebagai tafsir ayat yang bersangkutan. Dalam hal ini ia tidak boleh melakukan ijtihad untuk menjelaskan sesuatu makna tanpa ada dasar, dan Mufassir juga meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk diketahui selama tidak ditemukan riwayat sahih mengenainya. Menurut Ibnu Taimiyyah kita harus yakin bahwa Nabi Muhammad tidak menjelaskan kepada para sahabat tentang makna-makna al-qur’an sebagaimana telah menjelaskan kepada mereka lafad-lafadznya.

B.     Tafsir bil Ra’yi
Tafsir bil Ra’yi sering disebut  tafsir bil Dirayah atau Tafsir bil Ma’qul. Mufassir hanya perpegang pada pemahaman sendiri. Dan penyimpulan (istinbath) yang didasarkan pada ra’yu semata. Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metoda tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Qur’an, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain.
Seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.
 
Ra’yu semata yang tidak disertai bukti-bukti akan membawa penyimpangan terhadap kitabullah. Kebanyakan orang yang melakukan penafsiran dengan semangat demikian adalah ahli bid’ah, penganut mazhab batil. Mereka mentafsirkan Al-qur’an menurut pendapat pribadi yang tidak mempunyai dasar pijakan berupa pendapat atau penafsiran ulama salaf, sahabat, tabi’in.
Terhadap Tafsir bil Ra’yi para ulama berlainan pendapat ; ada yang membolehkan, ada pula yang mengharamkan. Sebetulnya hanya berlaku kalau didalam menafsirkan ayat Al-qur’an dengan Ra’yu itu tidak terdapat dasar sama sekali atau jika dilaksanakan  tanpa pengetahuan kaidah bahasa arab; pokok-pokok hukum syariah dan lain sebagainya, atau jika penafsiran tersebut dipakai untuk menguatkan nafsu belaka.[3]
Sebagian ulama membolehkan penafsiran dengan mengunakan metode Tafsir bil Ra’yi dengan syarat-syarat yang terpenuhi sebagai seorang Mufassir. Al-qur’an sendiri mendorong supaya berijtihad dan memikirkan ayat-ayatnya, guna mengetahui hukum-hukumnya. Mereka bersandar dengan firman Allah:

Tafsir bir-ra’yi terbagi menjadi dua bagian:
a.  Tafsir Mahmud: Adalah suatu penafsiran yang sesuai dengan kehendak syari’at     (penafsiran oleh orang yang menguasai aturan syari’at), jauh dari kebodohan dan kesesatan, sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami nash-nash Qur’aniyah.
b. Tafsir al Madzmum: Adalah penafsiran Al Qur’an tanpa berdasarkan ilmu, atau mengikuti hawa nafsu dan kehendaknya sendiri, tanpa mengetahui kaidah-kaidah bahasa atau syari’ah. Atau dia menafsirkan ayat berdasarkan mazhabnya yang rusak maupun bid’ahnya yang tersesat.
Hukum Tafsir bir-ra’yi al Madzmum: Menafsirkan Al Qur’an dengan ra’yu dan Ijtihad semata tanpa ada dasar yang shahih adalah haram.

Kitab-kitab tafsir yang dimasukkan dalam kategori Tafsir bil Ra’yi antara lain ialah:
a.       Tafsir Mafatihul Ghaib, karya Faruddin Ar-Razi (wafat 606 H).
b.      Anwaru at Tanzil wa Haqiqatut Takwil, karya Imam Abul Barakah An-Hasafi.
c.       Madarikut Tanzil fi Ma’anit Tanzil, karya Imam Al-Khazin (wafat 741 H).
C.     Tafsir Isyari
Menurut kaum sufi setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Qur’an inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan pengetahuan gaib yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari.

Kitab-kitab tafsir yang dimasukkan dalam kategori Tafsir bil Ra’yi antara lain ialah:
d.      Tafsir Mafatihul Ghaib, karya Faruddin Ar-Razi (wafat 606 H).
e.       Anwaru at Tanzil wa Haqiqatut Takwil, karya Imam Abul Barakah An-Hasafi.
f.       Madarikut Tanzil fi Ma’anit Tanzil, karya Imam Al-Khazin (wafat 741 H).

D.    Tafsir bil Izdiwaji (Campuran)
Tafsir bil Izdiwaji disebut juga dengan metode campuran antara tafsir bil Ma’tsur dan Tafsir bil Ra’yi yaitu menafsirkan Al-qur’an yang didasarkan atas perpaduan antara sumber tafsir riwayat yang kuat dan shahih, dengan sumber hasil ijtihad akan pikiran yang sehat. Tafsir macam ini banyak ditulis pada tafsir modern yang muncul sesudah kebangkitan kembali umat islam, dengan tujuan untuk membersihkan tafsir-tafsir Al-qur’an dari ikatan kaidah bahasa dan teori-teori ilmu  yang kurang erat hubungannya dengan maksud ayat.
Prof. Dr. Hamka dalam tafsirnya “Al-Azhar” menyatakan:
“Penafsirannya memelihara sebaik-baiknya hubungan antara naqal dan akal, diantara riwayah dan dirayah. Penafsiran tidak hanya semata-mata mengutip atau menukil pendapat yang sudah terdahulu, tetapi mempergunakan juga tinjauan pengalaman sendiri.
Syaikh Rasyid menyebut tafsir semacam ini dengan nama “dengan    kutipan yang shahih dan akal pikiran yang sehat”.
Contoh kitab-kitab tafsir yang termasuk kategori jenis ini antara lain:
a.       Tafsir Al-Manar, karya Syaikh Rasyid Rida (wafat 1354 H/1935 M).
b.      Al-Jawahiru fi Tafsiril Quran, karya Syaikh Tanthawi Jauhari (wafat 1358 H/1940 M).
c.       Tafsirul Maraghi, karya Syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi (wafat 1371 H/1952 M) dan lain sebagainya

IV.             KESIMPULAN

Al-Qur`an sebagai ”hudan-linnas” dan “hudan-lilmuttaqin”, maka untuk memahami kandungan al-quran agar mudah diterapkan dalam pengamalan hidup sehari-hari memerlukan pengetahuan dalam mengetahui arti atau maknanya, dan tafsirnya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sehingga kehendak tujuan ayat al-quran tersebut tepat sasarannya.
Kata tafsir para ulama’ berbeda pendapat ada yang mengatakah bahwa kata tafsir berasal dari kata fasara, ada juga pendapat kata tafsir berasal dari kata safara. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kata tafsir berasal dari kata tafsirah.
Tafsir pada dasarnya adalah rangkaian beberapa penjelasan dari pembicaraan (teks al-qur’an) atau penjelasan lebih lanjut tentang ayat-ayat al-qur’an yang dilakukan oleh seorang mufassir.
Tafsir diperlukan dalam memahami isi kandungan ayat-ayat al-quran yang mulia. Istilah tafsir lebih luas, dimana segala sesuatu yg berhubungan dengan ayat, surat, asbabun nuzul, dan lain sebagainya dibahas dalam tafsir yg bertujuan untuk memberikan kepahaman isi ayat atau surat tersebut, sehingga mengetahui maksud dan kehendak firman-firman Allah SWT tersebut.
V.                PENUTUP

Demikian makalah yang dapat kami paparkan. Semoga dapat memberi hasanah dalam ilmu pengetahuan. Kami mohon maaf  bila dalam makalah ini banyak ditemui kesalahan. Kritik dan saran konstruktif serta kebaikan untuk makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Moenawar, Kholil. Al-qur’an dari masa ke masa. 1953. Solol. CV Ramadhani
Hasbi, Muhammad. Ilmu-ilmu al-qur’an. 2002. Semarang. Pustaka Rizki Putra
Syadali, Ahmad. Ulumul qur’an II. 1997. Bandung. CV Pustaka Setia


[1] Ahmad Syadali, Ulumul Quran II, (Pustaka Setia, Bandung:1997) hal 51
[2] Ibid hal 59
[3] Ibid hal 60