Selasa, 04 Desember 2012

Februari Kelabu


Bismillairohmaanirrahim…
Aku ingin menceritakan sebuah ceritaku 4 tahun silam. Dimana pada saat itu kesedihan meliputi hari-hariku.
Saat itu Aku baru duduk di bangku kelas 2 SMP.  Aku  bersekolah di International Islamic Boarding School Al-Shighor Pondok Pesantren Gedongan Cirebon.
Sore itu seusai sholat ashar berjama’ah aku bersiap-siap untuk mencuci bajuku. Karena sudah berjanji untuk mencuci bersama temanku,  aku menantinya. Arofah namanya, dia adalah teman satu kelasku sekaligus  teman satu kamarku. Wajar saja kalau aku dan dia menjadi teman dekat, karena segala sesuatu pasti kita lakukan bersama.
Akhirnya yang ditunggu datang juga. Arofah dengan badannya yang kurus itu membawa dua buah ember  yang berisi baju kotor dan menghampiriku. Dari kejauhan aku tertawa meledeknya. Rasanya seperti biasa, yang tak akan terjadi apa-apa. Sambil bercanda dan terawa terbahak-bahak aku mencuci bajuku.  Hoby kami berdua adalah basah-basahan saat mencuci baju.
Setelah selesai mencuci bajuku yang telah menggunung itu, aku bergegas untuk segera mandi. Seusai mandi aku kedinginan dan segera menuju kamarku. Kamarku bernama ghurfatun najwa  yang berada di sebelah utara ghurfah aminah atau biasa di kenal dengan sebutan "kamar khusus santri baru". Baru beberapa menit aku duduk di kamarku, terdengar suara Ibu Nyai memanggil nama "SHOFA". Tak ada firasat apa-apa tentang itu karena pemilik nama Shofa di pesantrenku itu bukan cuma aku.
Setelah beberapa saat Ibu Nyai mencari-cari santriwati yang bernama Shofa, ternyata yang Ibu Nyai maksud adalah namaku yaitu Shofa Nurul Hidayah atau aku biasa dipanggil "Shofa Shoghir" yang artinya  "Shofa kecil". Maklum saja waktu itu aku masih SMP, sedangkan pemilik nama Shofa yang lain umurnya jauh lebih tua dariku .
Pengurus memanggilku "nok..shofa.."
Aku menjawab "iya mba.. ada apa?". Sembari aku bersalaman dengan pengurus itu dan Ibu Nyai.
"nok.. pulang yah.. sekarang ! itu sudah di jemput..". Ibu Nyai menjawab sambil menunjukkan tanteku yang menjemputku.
Bagaikan disambar petir yang begitu dahsyat aku melihat  tanteku bersama sepupuku berada di hadapanku dan ditambah lagi dengan ucapan Ibu Nyai yang memintaku  untuk segara pulang. Tubuhku terasa gemetar, fikiranku tak tenang dan hatiku bertanya-tanya. Ada apa ini ? Mengapa tiba-tiba akau di jemput dan disuruh pulang ? Kenapa bukan ibu yang menjemput aku ? Tak sepeti biasanya dadakan begini ? Kenapa ibu tak memberitahuku terlebih dahulu ? Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuatku penasaran dengan semua ini. Sebenarnya ada apa dengan semua ini??
Sambil berjalan menuju Ndalem Pak Kiyai aku masih memikirkan rasa penasaranku itu. Sesampainya dirumah Pak kiyai ternyta aku melihat sosok laki-laki yang wajahnya tak asing lagi bagiku, dia adalah pamanku. Adik terakhir dari ibuku. Rupanya pamanku sudah menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi kepada Pak Kiyai. Pak Kiyai meminta agar aku langsung segera pulang.  Lalu  aku beserta paman dan istrinya pamit untuk pulang.
Benar-benar saat itu sama sekali biasa-biasa saja seperti tak akan terjadi sesuatu. Tante dan pamanku bercanda seperti biasa. Namun, aku tahu semua ini pasti ada kaitannya dengan ayahkku. Karena ayahku  sudah lama mengalami sakit yang cukup serius. Liver  dan kencing manis. Yaa.. dua penyakit yang saling berlawanan.
Waktu maghrib tiba, mobilku berhenti disalah satu SPBU di daerah brebes. Saat itu hujan turun sangat lebat dengan petir dan angin yang mengiringinya. Aku menunaikan sholat maghrib. Di dalam doaku, aku memohon kepada allah "yaa allah…apabila engkau ingin mengambil roh dari tubuh ayah hamba…hamba ikhlas jika engkau mengambilnya..karena hamba tak ingin lagi melihat ayah hamba bertahan dengan penyakitnya yaa allah… sudah cukup penderitaan ayah hamba karena penyakitnya yaa allah.. hamba tak tega bila harus melihat ayah hamba menahan sakitnya yaa allah.. hamba ikhlas… hamba ikhlas yaa allah jika engkau mengambil rohnya malam ini, tetapi izinkanlah hamba untuk melihat ayah hamba yang terakhir kalinya sebelum engkau mengambil rohnya yaa allah…" aku meteskan air mata dalam doaku.
Setengah jam kemudian aku sampai di rumah, dari kejauhan rumahku tampak sepi hanya ada tiga buah motor yang terparkir di depannya. Setelah turun dari mobil, aku bergegas masuk ke dalam rumah dengan mempercepat langkahku. Di ruang tamu aku menjumpai budeku dan tanteku, mereka adalah kakak dan adik ayahku. Aku menyalami mereka dan mereka tersenyum padaku. Masih diruang tamu, Nenekku datang dan memelukku.
Aku  bertanya "ibu sama ayah dimana?
Lalu nenek menjawab "itu dikamar…". Sembari aku dan nenek berjalan menuju kamar.
Aku hanya dapat diam melihat keadaan ayahku. Ayahku terbaring lemas, dan sudah tak mengenal siapa-siapa hingga saat aku mencium tangannya yang terakhir kalinya akupun sudah tak dikenali lagi oleh ayah. Dalam hati ingin sekali aku menangis, tetapi aku bertekat untuk tidak menambah kesedihan ibuku. Terlihat disekeliling tempat tidur semua keluarga membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku segera mengambil air wudhu dan ku raih buku yasin untuk ku baca. Aku bersyukur karena aku masih bisa melihat ayahku.
Aku masih mengingat dengan jelas peristiwa itu, saat itu aku duduk di samping pintu dan bersender dilemari kayu. Aku memulai membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku membacanya tiga kali, tetapi belum selesai mengkhatamkan  surat yasin itu aku mendengar suara ayahku menyebut nama allah tiga kali dan melantunkan syadat. Aku tak menghiraukan. Aku tetap melanjutkan menghatamkan surat yasinku, dan aku sadar ketika itu ayahku telah tiada.
Kututup surat yasin itu, dan aku pandang wajah ibuku yang nampak lelah mengurusi ayah selama ini tanpa memikirkan dirinya sendiri. Aku dekati Ibu dan ku peluk ibu, rasanya hati ini tak kuat untuk menghadapi ini semua. Ku coba untuk tetap menguatkan hatiku. Mencoba untuk tidak menangis melihat kepergian ayahku meskipun itu terasa amat sangat menyedihkan.
Saudara dan tetangga-tetanggaku mulai berdatangan. Sementara aku sibuk dengan handphone-ku, memberi kabar kepada saudara-saudaraku yang berada diluar kota. Rumahku menjadi ramai dalam hitungan menit. Isak tangis dari sanak family mulai terdengar.
Dalam keadaan lemas karena terlarut dalam kesedihan. Aku diam seribu bahasa. Aku hanya melihat orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Seakan hati dan fikiran ini tak percaya dengan semua yang telah terjadi. Tiba-tiba seorang wanita cantik yang sudah cukup umur menghapiriku. Sebuah tangan yang begitu lembut membelai pundakku seraya berkata "mba…ikhlasin kepergian ayah yah.." . Aku tetap diam membisu menahan tangis, karena aku tak ingin ibuku bertambah kesedihannya saat melihatku menangis.
Pada saat itu aku tak melihat adikku. Kemana dia ? rasanya ingin sekali aku memeluknya karena saat itu ia masih duduk dibangku kelas 1 sekolah dasar.
Keesokan harinya, rumahku sudah penuh oleh para pentakziyah. Mereka adalah kerabat ayahku, kerabat ibu, teman-temanku, dan semua saudara-saudaraku. Mereka datang untuk menyolati jenazah ayahku dan membacakan surat yasin untuk ayahku. Rencana pemakaman akan dilakukan seusai sholat dzuhur karena menunggu kedatangan saudaraku dari Jakarta.
Waktu berlalu begitu cepat. Kelurgaku datang, isak tangis kembali mewarnai saat-saat itu, rasanya aku sudah tak kuasa menahan air mataku. Perlahan-lahan air mataku menetes. Sebeum acara pemakaman dilaksanakan aku ibu dan adikku diminta untuk melihat wajah ayah yang terakhir kalinya. Dengan kepolosannya adikku berkata "ayah meninggal mah…?laah yaa udah…". Semua orang yang mendengar ucapan adikku, mereka menangis.
Begitu banyaknya pentakziyah yang datang. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya mampu duduk terdiam merenung karena aku sadar bahwa inilah akhir dari semuanya. Esok hari nanti aku tak akan bisa lagi melihat senyum ayahku yang selalu menghiasi hari-hariku, tak akan ada lagi sosok ayah dalam hidupku. Tak ada lagi yang akan menasihatiku selain Ibuku, tak akan ada lagi pujian manja dari ayahku, tak akan ada lagi yang akan menyuruhku untuk membuatkan "es teh" kesukaanya itu.
Saat aku melihat adikku, air mataku kembali menetes. Kali ini air mataku menetes dengan begitu deras seakan tak dapat lagi aku membendung rasa sedihku. Mungkin adikku belum mengerti tentang apa yang telah terjadi, dia hanya mengerti bahwa ayah itu meninggal. Tetapi dia tidak mengerti bahwa ayah akan meninggalkan kita selamnya. Mungkin aku mampu menghadapi semuanya dan merelakan kepargian ayahku, karena selama ini aku sudah cukup puas menikamati kasih sayang ayah. Sementara adikku ????? dia masih sangat kecil.. dia belum puas menikmati kasih sayang ayah.
Waktu terus berlalu, lambat laun aku, ibu dan adikku bias menerima itu semua  dan kita mulai terbiasa dengan ketiadaan ayah di kehidupan kita. Ketika kita semua kangen sama ayah, biasa kita lihat makam ayah dari pintu belakang rumah, karena ayahku di makamkan di pemakaman belakang rumahku.
Satu hal yang aku sesali, ayah tidak bisa melihat ku yang saat ini sudah tumbuh menjadi dewasa, sudah duduk dibangku perkuliahan. Aku berjanji akan membahagiakan ibu dan adikku setelah kepergian ayah karena aku sempat bias membahagiakan ayah.
Ayah….. kita semua merindukanmu… akuuu ibuuu dan dede.. merindukanmu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar