Bismillairohmaanirrahim…
Aku ingin menceritakan sebuah ceritaku
4 tahun silam. Dimana pada saat itu kesedihan meliputi hari-hariku.
Saat itu Aku baru duduk di bangku kelas
2 SMP. Aku bersekolah di International Islamic Boarding
School Al-Shighor Pondok Pesantren Gedongan Cirebon.
Sore itu seusai sholat ashar berjama’ah
aku bersiap-siap untuk mencuci bajuku. Karena sudah berjanji untuk mencuci
bersama temanku, aku menantinya. Arofah
namanya, dia adalah teman satu kelasku sekaligus teman satu kamarku. Wajar saja kalau aku dan
dia menjadi teman dekat, karena segala sesuatu pasti kita lakukan bersama.
Akhirnya yang ditunggu datang juga.
Arofah dengan badannya yang kurus itu membawa dua buah ember yang berisi baju kotor dan menghampiriku. Dari
kejauhan aku tertawa meledeknya. Rasanya seperti biasa, yang tak akan terjadi
apa-apa. Sambil bercanda dan terawa terbahak-bahak aku mencuci bajuku. Hoby kami berdua adalah basah-basahan saat
mencuci baju.
Setelah selesai mencuci bajuku yang
telah menggunung itu, aku bergegas untuk segera mandi. Seusai mandi aku
kedinginan dan segera menuju kamarku. Kamarku bernama ghurfatun najwa yang berada di sebelah utara ghurfah aminah
atau biasa di kenal dengan sebutan "kamar khusus santri baru". Baru
beberapa menit aku duduk di kamarku, terdengar suara Ibu Nyai memanggil nama
"SHOFA". Tak ada firasat apa-apa tentang itu karena pemilik nama
Shofa di pesantrenku itu bukan cuma aku.
Setelah beberapa saat Ibu Nyai
mencari-cari santriwati yang bernama Shofa, ternyata yang Ibu Nyai maksud
adalah namaku yaitu Shofa Nurul Hidayah atau aku biasa dipanggil "Shofa
Shoghir" yang artinya "Shofa
kecil". Maklum saja waktu itu aku masih SMP, sedangkan pemilik nama Shofa
yang lain umurnya jauh lebih tua dariku .
Pengurus memanggilku
"nok..shofa.."
Aku menjawab "iya mba.. ada
apa?". Sembari aku bersalaman dengan pengurus itu dan Ibu Nyai.
"nok.. pulang yah.. sekarang ! itu
sudah di jemput..". Ibu Nyai menjawab sambil menunjukkan tanteku yang
menjemputku.
Bagaikan disambar petir yang begitu
dahsyat aku melihat tanteku bersama
sepupuku berada di hadapanku dan ditambah lagi dengan ucapan Ibu Nyai yang
memintaku untuk segara pulang. Tubuhku
terasa gemetar, fikiranku tak tenang dan hatiku bertanya-tanya. Ada apa ini ?
Mengapa tiba-tiba akau di jemput dan disuruh pulang ? Kenapa bukan ibu yang
menjemput aku ? Tak sepeti biasanya dadakan begini ? Kenapa ibu tak
memberitahuku terlebih dahulu ? Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuatku
penasaran dengan semua ini. Sebenarnya ada apa dengan semua ini??
Sambil berjalan menuju Ndalem Pak Kiyai
aku masih memikirkan rasa penasaranku itu. Sesampainya dirumah Pak kiyai
ternyta aku melihat sosok laki-laki yang wajahnya tak asing lagi bagiku, dia
adalah pamanku. Adik terakhir dari ibuku. Rupanya pamanku sudah menceritakan
apa yang sesungguhnya terjadi kepada Pak Kiyai. Pak Kiyai meminta agar aku
langsung segera pulang. Lalu aku beserta paman dan istrinya pamit untuk
pulang.
Benar-benar saat itu sama sekali
biasa-biasa saja seperti tak akan terjadi sesuatu. Tante dan pamanku bercanda
seperti biasa. Namun, aku tahu semua ini pasti ada kaitannya dengan ayahkku.
Karena ayahku sudah lama mengalami sakit
yang cukup serius. Liver dan kencing
manis. Yaa.. dua penyakit yang saling berlawanan.
Waktu maghrib tiba, mobilku berhenti
disalah satu SPBU di daerah brebes. Saat itu hujan turun sangat lebat dengan
petir dan angin yang mengiringinya. Aku menunaikan sholat maghrib. Di dalam
doaku, aku memohon kepada allah "yaa allah…apabila engkau ingin
mengambil roh dari tubuh ayah hamba…hamba ikhlas jika engkau
mengambilnya..karena hamba tak ingin lagi melihat ayah hamba bertahan dengan
penyakitnya yaa allah… sudah cukup penderitaan ayah hamba karena penyakitnya
yaa allah.. hamba tak tega bila harus melihat ayah hamba menahan sakitnya yaa
allah.. hamba ikhlas… hamba ikhlas yaa allah jika engkau mengambil rohnya malam
ini, tetapi izinkanlah hamba untuk melihat ayah hamba yang terakhir kalinya
sebelum engkau mengambil rohnya yaa allah…" aku meteskan air mata
dalam doaku.
Setengah jam kemudian aku sampai di
rumah, dari kejauhan rumahku tampak sepi hanya ada tiga buah motor yang
terparkir di depannya. Setelah turun dari mobil, aku bergegas masuk ke dalam
rumah dengan mempercepat langkahku. Di ruang tamu aku menjumpai budeku dan
tanteku, mereka adalah kakak dan adik ayahku. Aku menyalami mereka dan mereka
tersenyum padaku. Masih diruang tamu, Nenekku datang dan memelukku.
Aku
bertanya "ibu sama ayah dimana?
Lalu nenek menjawab "itu
dikamar…". Sembari aku dan nenek berjalan menuju kamar.
Aku hanya dapat diam melihat keadaan
ayahku. Ayahku terbaring lemas, dan sudah tak mengenal siapa-siapa hingga saat
aku mencium tangannya yang terakhir kalinya akupun sudah tak dikenali lagi oleh
ayah. Dalam hati ingin sekali aku menangis, tetapi aku bertekat untuk tidak
menambah kesedihan ibuku. Terlihat disekeliling tempat tidur semua keluarga
membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku segera mengambil air wudhu dan ku raih
buku yasin untuk ku baca. Aku bersyukur karena aku masih bisa melihat ayahku.
Aku masih mengingat dengan jelas
peristiwa itu, saat itu aku duduk di samping pintu dan bersender dilemari kayu.
Aku memulai membacakan surat yasin untuk ayahku. Aku membacanya tiga kali,
tetapi belum selesai mengkhatamkan surat
yasin itu aku mendengar suara ayahku menyebut nama allah tiga kali dan
melantunkan syadat. Aku tak menghiraukan. Aku tetap melanjutkan menghatamkan
surat yasinku, dan aku sadar ketika itu ayahku telah tiada.
Kututup surat yasin itu, dan aku
pandang wajah ibuku yang nampak lelah mengurusi ayah selama ini tanpa
memikirkan dirinya sendiri. Aku dekati Ibu dan ku peluk ibu, rasanya hati ini
tak kuat untuk menghadapi ini semua. Ku coba untuk tetap menguatkan hatiku.
Mencoba untuk tidak menangis melihat kepergian ayahku meskipun itu terasa amat
sangat menyedihkan.
Saudara dan tetangga-tetanggaku mulai
berdatangan. Sementara aku sibuk dengan handphone-ku, memberi kabar kepada
saudara-saudaraku yang berada diluar kota. Rumahku menjadi ramai dalam hitungan
menit. Isak tangis dari sanak family mulai terdengar.
Dalam keadaan lemas karena terlarut
dalam kesedihan. Aku diam seribu bahasa. Aku hanya melihat orang yang
berlalu-lalang dihadapanku. Seakan hati dan fikiran ini tak percaya dengan
semua yang telah terjadi. Tiba-tiba seorang wanita cantik yang sudah cukup umur
menghapiriku. Sebuah tangan yang begitu lembut membelai pundakku seraya berkata
"mba…ikhlasin kepergian ayah yah.." . Aku tetap diam membisu menahan
tangis, karena aku tak ingin ibuku bertambah kesedihannya saat melihatku
menangis.
Pada saat itu aku tak melihat adikku.
Kemana dia ? rasanya ingin sekali aku memeluknya karena saat itu ia masih duduk
dibangku kelas 1 sekolah dasar.
Keesokan harinya, rumahku sudah penuh
oleh para pentakziyah. Mereka adalah kerabat ayahku, kerabat ibu,
teman-temanku, dan semua saudara-saudaraku. Mereka datang untuk menyolati
jenazah ayahku dan membacakan surat yasin untuk ayahku. Rencana pemakaman akan
dilakukan seusai sholat dzuhur karena menunggu kedatangan saudaraku dari
Jakarta.
Waktu berlalu begitu cepat. Kelurgaku
datang, isak tangis kembali mewarnai saat-saat itu, rasanya aku sudah tak kuasa
menahan air mataku. Perlahan-lahan air mataku menetes. Sebeum acara pemakaman
dilaksanakan aku ibu dan adikku diminta untuk melihat wajah ayah yang terakhir
kalinya. Dengan kepolosannya adikku berkata "ayah meninggal mah…?laah yaa
udah…". Semua orang yang mendengar ucapan adikku, mereka menangis.
Begitu banyaknya pentakziyah yang
datang. Selama pemakaman berlangsung, aku hanya mampu duduk terdiam merenung
karena aku sadar bahwa inilah akhir dari semuanya. Esok hari nanti aku tak akan
bisa lagi melihat senyum ayahku yang selalu menghiasi hari-hariku, tak akan ada
lagi sosok ayah dalam hidupku. Tak ada lagi yang akan menasihatiku selain
Ibuku, tak akan ada lagi pujian manja dari ayahku, tak akan ada lagi yang akan
menyuruhku untuk membuatkan "es teh" kesukaanya itu.
Saat aku melihat adikku, air mataku
kembali menetes. Kali ini air mataku menetes dengan begitu deras seakan tak dapat
lagi aku membendung rasa sedihku. Mungkin adikku belum mengerti tentang apa
yang telah terjadi, dia hanya mengerti bahwa ayah itu meninggal. Tetapi dia
tidak mengerti bahwa ayah akan meninggalkan kita selamnya. Mungkin aku mampu
menghadapi semuanya dan merelakan kepargian ayahku, karena selama ini aku sudah
cukup puas menikamati kasih sayang ayah. Sementara adikku ????? dia masih
sangat kecil.. dia belum puas menikmati kasih sayang ayah.
Waktu terus berlalu, lambat laun aku,
ibu dan adikku bias menerima itu semua
dan kita mulai terbiasa dengan ketiadaan ayah di kehidupan kita. Ketika
kita semua kangen sama ayah, biasa kita lihat makam ayah dari pintu belakang
rumah, karena ayahku di makamkan di pemakaman belakang rumahku.
Satu hal yang aku sesali, ayah tidak
bisa melihat ku yang saat ini sudah tumbuh menjadi dewasa, sudah duduk dibangku
perkuliahan. Aku berjanji akan membahagiakan ibu dan adikku setelah kepergian
ayah karena aku sempat bias membahagiakan ayah.
Ayah….. kita semua merindukanmu… akuuu
ibuuu dan dede.. merindukanmu….
